HUKUM MENONTON TELEVISI

PERTANYAAN
 
Saya seorang pemuda yang berusia  delapan  belas  tahun  dan
mempunyai  beberapa  orang  adik. Setiap hari adik-adik saya
pergi ke rumah  tetangga  untuk  menonton  televisi.  Tetapi
ketika  saya  meminta  kepada  ayah  untuk  membelikan  kami
televisi, beliau berkata, "Televisi itu haram." Beliau tidak
memperbolehkan saya memasukkan televisi ke rumah.
 
Saya  mohon Ustadz berkenan memberikan bimbingan kepada kami
mengenai masalah ini.
 
JAWABAN
 
Saya telah membicarakan hukum televisi ini dalam  pembahasan
terdahulu.  Hal  itu saya sampaikan pada kesempatan pertama,
dan saya kemukakan kepada para pemirsa melalui acara "Hadyul
Islam" di televisi Qathar.
 
Pada  waktu  itu  saya  katakan  bahwa  televisi sama halnya
seperti radio, surat kabar, dan majalah. Semua itu  hanyalah
alat  atau  media  yang  digunakan untuk berbagai maksud dan
tujuan sehingga Anda tidak  dapat  mengatakannya  baik  atau
buruk,  halal  atau  haram. Segalanya tergantung pada tujuan
dan  materi  acaranya.  Seperti  halnya  pedang,  di  tangan
mujahid  ia  adalah  alat untuk berjihad; dan bila di tangan
perampok, maka pedang itu  merupakan  alat  untuk  melakukan
tindak  kejahatan. Oleh karenanya sesuatu dinilai dari sudut
penggunaannya, dan sarana atau media dinilai  sesuai  tujuan
dan maksudnya.
 
Televisi   dapat   saja   menjadi   media   pembangunan  dan
pengembangan pikiran, ruh, jiwa, akhlak, dan kemasyarakatan.
Demikian  pula  halnya  radio,  surat kabar, dan sebagainya.
Tetapi di  sisi  lain,  televisi  dapat  juga  menjadi  alat
penghancur  dan  perusak.  Semua  itu  kembali kepada materi
acara dan pengaruh yang ditimbulkannya.
 
Dapat  saya  katakan  bahwa   media-media   ini   mengandung
kemungkinan  baik,  buruk,  halal,  dan  haram. Seperti saya
katakan sejak semula bahwa seorang  muslim  hendaknya  dapat
mengendalikan   diri   terhadap   media-media  seperti  ini,
sehingga dia menghidupkan radio atau televisi jika  acaranya
berisi  kebaikan,  dan  mematikannya  bila berisi keburukan.
Lewat media ini seseorang dapat menyaksikan dan mendengarkan
berita-berita   dan   acara-acara   keagamaan,   pendidikan,
pengajaran, atau acara lainnya yang  dapat  diterima  (tidak
mengandung  unsur  keburukan/keharaman).  Sehingga dalam hal
ini anak-anak dapat menyaksikan gerakan-gerakan lincah  dari
suguhan   hiburan   yang  menyenangkan  hatinya  atau  dapat
memperoleh  manfaat  dari  tayangan  acara  pendidikan  yang
mereka saksikan.
 
Namun  begitu,  ada  acara-acara  tertentu  yang tidak boleh
ditonton, seperti tayangan film-film Barat yang pada umumnya
merusak  akhlak.  Karena  didalamnya  mengandung unsur-unsur
budaya dan kebiasaan yang bertentangan dengan  aqidah  Islam
yang lurus. Misalnya, film-film itu mengajarkan bahwa setiap
gadis harus mempunyai teman kencan dan suka berasyik masyuk.
Kemudian  hal itu dibumbui dengan bermacam-macam kebohongan,
dan  mengajarkan  bagaimana  cara  seorang  gadis   berdusta
terhadap  keluarganya,  bagaimana  upayanya agar dapat bebas
keluar rumah,  termasuk  memberi  contoh  bagaimana  membuat
rayuan  dengan  kata-kata  yang  manis.  Selain  itu,  jenis
film-film  ini  juga  hanya  berisikan  kisah-kisah  bohong,
dongeng-dongeng  khayal,  dan  semacamnya.  Singkatnya, film
seperti ini hanya menjadi  sarana  untuk  mengajarkan  moral
yang rendah.
 
Secara objektif saya katakan bahwa sebagian besar film tidak
luput dari  sisi  negatif  seperti  ini,  tidak  sunyi  dari
adegan-adegan  yang merangsang nafsu seks, minum khamar, dan
tari telanjang. Mereka bahkan berkata, "Tari dan dansa sudah
menjadi  kebudayaan dalam dunia kita, dan ini merupakan ciri
peradaban yang tinggi. Wanita yang  tidak  belajar  berdansa
adalah  wanita  yang tidak modern. Apakah haram jika seorang
pemuda duduk  berdua  dengan  seorang  gadis  sekadar  untuk
bercakap-cakap serta saling bertukar janji?"
 
Inilah  yang  menyebabkan orang yang konsisten pada agamanya
dan menaruh perhatian terhadap akhlak anak-anaknya  melarang
memasukkan  media-media  seperti  televisi dan sebagainya ke
rumahnya.   Sebab   mereka   berprinsip,   keburukan    yang
ditimbulkannya   jauh  lebih  banyak  daripada  kebaikannya,
dosanya lebih besar daripada  manfaatnya,  dan  sudah  tentu
yang  demikian  adalah  haram.  Lebih-lebih  media  tersebut
memiliki  pengaruh  yang  sangat  besar  terhadap  jiwa  dan
pikiran,  yang  cepat  sekali  menjalarnya, belum lagi waktu
yang tersita olehnya dan menjadikan kewajiban terabaikan.
 
Tidak diragukan lagi bahwa hal inilah  yang  harus  disikapi
dengan  hati-hati,  ketika  keburukan  dan  kerusakan  sudah
demikian dominan. Namun cobaan ini telah begitu merata,  dan
tidak   terhitung  jumlah  manusia  yang  tidak  lagi  dapat
menghindarkan diri darinya, karena memang segi-segi  positif
dan  manfaatnya  juga ada. Karena itu, yang paling mudah dan
paling layak dilakukan dalam menghadapi kenyataan ini adalah
sebagaimana   yang  telah  saya  katakan  sebelumnya,  yaitu
berusaha memanfaatkan yang baik dan menjauhi yang  buruk  di
antara film bentuk tayangan sejenisnya.
 
Hal   ini   dapat  dihindari  oleh  seseorang  dengan  jalan
mematikan radio atau televisinya, menutup  surat  kabar  dan
majalah  yang memuat gambar-gambar telanjang yang terlarang,
dan menghindari membaca media yang memuat berita-berita  dan
tulisan yang buruk.
 
Manusia  adalah  mufti  bagi  dirinya sendiri, dan dia dapat
menutup pintu kerusakan dari dirinya. Apabila ia tidak dapat
mengendalikan  dirinya  atau  keluarganya, maka langkah yang
lebih utama adalah jangan memasukkan media-media tersebut ke
dalam rumahnya sebagai upaya preventif (saddudz dzari'ah).
 
Inilah  pendapat  saya  mengenai  hal ini, dan Allahlah Yang
Maha Memberi Petunjuk  dan  Memberi  Taufiq  ke  jalan  yang
lurus.
 
Kini tinggal bagaimana tanggung jawab negara secara umum dan
tanggung jawab produser serta seluruh pihak  yang  berkaitan
dengan  media-media informasi tersebut. Karena bagaimanapun,
Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada mereka terhadap
semua  itu.  Maka  hendaklah mereka mempersiapkan diri sejak
sekarang.
 
-----------------------
Fatwa-fatwa Kontemporer
Dr. Yusuf Qardhawi
Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740
Telp. (021) 7984391-7984392-7988593
Fax. (021) 7984388
ISBN 979-561-276-X

AL IKHA’ (PERSAUDARAAN)

Di antara nilai-nilai sosial kemanusiaan yang ditekankan oleh Islam adalah persaudaraan (ukhuwah). Bahwa hendaknya manusia hidup di masyarakat itu saling mencintai dan saling menolong dan diikat oleh perasaan layaknya anak-anak dalam satu keluarga. Mereka saling mencintai, saling memperkuat, sehingga benar-benar terasa bahwa kekuatan saudara adalah kekuatannya, dan kelemahan saudaranya adalah kelemahannya. Dan bahwa sesungguhnya ia akan merasa kecil (tidak berarti) jika sendirian dan dia akan banyak (bernilai) manakala bersama saudara-saudaranya.

Karena urgennya permasalahan ini dalam pembinaan masyarakat Islam maka kami akan menjelaskan hal tersebut secara rinci. Seperti kitab, “Al Islam Wal Audha’ Al Iqtishadiyah” “Al Islam Wal Manahijil Isytirakiyah,” dan “Al Islam Al Muftara ‘alaihi,” semua karya Syaikh Muhammad Al Ghazali dan lain-lain.

Al Qur’an telah menjadikan bahwa hidup bersaudara itu suatu kenikmatan yang terbesar. Allah SWT berfirman:

“Dan ingatlah akan kenikmatan Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran: 103)

Al Qur’an juga menjadikan persaudaraan dalam bermasyarakat di antara orang-orang mukmin sebagai konsekuensi keimanan yang tidak dapat terpisah satu sama lain di antara keduanya. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (Al Hujurat: 10)

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:

.”.. Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Anfal: 62-63)

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak menganiayanya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh)…, janganlah saling menghasud, janganlah saling bermusuhan, dan janganlah saling bertengkar …, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Telah kami jelaskan sebelumnya tentang sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari haditsnya Zaid bin Arqam, bahwa Rasulullah SAW berdoa pada setiap selesai shalat sebagai berikut:

“Ya Allah ya Tuhan kami, dan Tuhan segala sesuatu serta pemiliknya, saya bersaksi bahwa Engkaulah Allah yang Esa, dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Ya Allah ya Tuhan kami dan tuhan segala sesuatu serta pemiliknya, sesungguhnya aku bersaksi bahwa sesunggahnya Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu. Ya Allah ya Tuhan kami, tuhan segala sesuatu dan pemiliknya, sesungguhnya kami bersaksi bahwa sesungguhnya seluruh hamba(Mu) adalah bersaudara.”

Dalam doa tersebut, pengakuan prinsip ukhuwwah (bersaudara) diletakkan setelah bersyahadah kepada Allah dengan mengesakan Dia dan bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah sebagai hamba dan rasul-Nya. Dalam ungkapan “Seluruh hamba (Mu) adalah saudara” ada dua makna yang keduanya sama-sama benar, yaitu:

Pertama, Sesungguhnya para hamba yang dimaksud di sini adalah seluruh manusia, mereka adalah bersaudara antara yang satu dengan lainnya, dengan alasan bahwa mereka semua putera Adam dan hamba Allah. Ini adalah Ukkuwwah Insaniyah ‘Ammah (persaudaraan antar manusia secara umum).

Allah SWT telah menyiasati sejumlah Rasul dalam Al Qur’an bahwa mereka itu adalah bersaudara bagi kaumnya, meskipun mereka kufur terhadap risalahnya. Karena adanya sisi persamaan dengan mereka di dalam jenis dan asal mula, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan Kami telah mengutus kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud.” (Al A’raf: 65)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih.” (Al A’raf: 73)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib.” (Al A’raf: 85)

Kedua, Bahwa sesungguhnya yang dimaksud hamba di sini adalah khusus kaum Muslimin, karena kesamaan mereka dalam satu millah (agama). Mereka bersatu dalam satu aqidah yaitu mentauhidkan Allah, dan kiblat yang satu yaitu Ka’bah di Baitul Haram. Mereka mereka diikat oleh kitab yang satu yaitu Al Qur’an dan Rasul yang satu yaitu Muhammad SAW serta oleh satu Manhaj yaitu Syari’at Islam.

Inilah yang disebut Ukhuwwah Diniyah (Islamiyah) yang khusus yang tidak bertentangan dengan yang pertama. Karena tidak saling menafikan antara yang khusus dan yang umum. Hanya saja ukhuwwah diniyah ini memiliki hak-hak yang lebih banyak, sesuai dengan ikatan aqidah dan syari’ah serta pemikiran dan tingkah laku.

Fiqh Prioritas

PRIORITAS AMALAN HATI ATAS AMALAN ANGGOTA BADAN

DI ANTARA amalan yang sangat dianjurkan  menurut  pertimbangan
agama  ialah amalan batiniah yang dilakukan oleh hati manusia.
Ia lebih diutamakan daripada amalan  lahiriah  yang  dilakukan
oleh anggota badan, dengan beberapa alasan.

Pertama,  karena  sesungguhnya  amalan yang lahiriah itu tidak
akan diterima oleh Allah  SWT  selama  tidak  disertai  dengan
amalan  batin  yang  merupakan  dasar  bagi diterimanya amalan
lahiriah itu, yaitu niat;  sebagaimana  disabdakan  oleh  Nabi
saw:

   "Sesungguhnya amal perbuatan itu harus disertai dengan
   niat." 32

Arti niat ini ialah niat yang terlepas  dari  cinta  diri  dan
dunia.  Niat  yang  murni  untuk  Allah  SWT.  Dia  tidak akan
menerima amalan seseorang kecuali amalan itu murni  untuk-Nya;
sebagaimana difirmankan-Nya:

   "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah
   Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
   (menjalankan) agama dengan lurus..." (al-Bayyinah: 5)

Rasulullah saw bersabda,
   
   "Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang
   murni, yang dilakukan hanya untuk-Nya."33

Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, Allah SWT berfirman,

   "Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan
   persekutuan. Barangsiapa melakukan suatu amalan kemudian
   dia mempersekutukan diri-Ku dengan yang lain, maka Aku
   akan meninggalkannya dan meninggalkan sekutunya." Dalam
   riwayat yang lain disebutkan: "Maka dia akan menjadi
   milik sekutunya dan Aku berlepas diri darinya." 34

Kedua,  karena  hati  merupakan  hakikat  manusia,   sekaligus
menjadi  poros kebaikan dan kerusakannya. Dalam Shahih Bukhari
dan Muslim disebutkan bahwasanya Nabi saw bersabda,

   "Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada
   segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh
   tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh
   tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah
   hati."35

Nabi saw. menjelaskan bahwasanya hati  merupakan  titik  pusat
pandangan  Allah,  dan  perbuatan  yang dilakukan oleh hatilah
yang  diakui  (dihargai/dinilai)  oleh-Nya.  Karenanya,  Allah
hanya  melihat hati seseorang, bila bersih niatnya, maka Allah
akan menerima amalnya: dan bila kotor hatinya  (niatnya  tidak
benar),  maka otomatis amalnya akan ditolak Allah, sebagaimana
disabdakan oleh baginda,

   "Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan
   bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu."
   36

Yang dimaksudkan di sini ialah  diterima  dan  diperhatikannya
amalan tersebut.

Al-Qur'an menjelaskan bahwasanya keselamatan di akhirat kelak,
dan perolehan surga di sana, hanya dapat  dicapai  oleh  orang
yang   hatinya   bersih   dari  kemusyrikan,  kemunafikan  dan
penyakit-penyakit hati yang menghancurkan.  Yaitu  orang  yang
hanya  menggantungkan  diri kepada Allah SWT, sebagaimana yang
Dia firmankan melalui lidah nabi-Nya, Ibrahim al-Khalil a.s.

   "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka
   dibangkitkan. (Yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak
   berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan
   hati yang bersih." (as-Syu'ara': 87-89)
   
   "Dan didekatlah surga itu kepada orang-orang yang
   bertaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).
   Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap
   hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara
   (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut
   kepada tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan
   (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat."
   (Qaf: 31-33)

Keselamatan  dari  kehinaan  pada  hari  kiamat  kelak   hanya
diberikan  kepada  orang  yang  datang kepada Allah SWT dengan
hati yang bersih. Dan surga hanya diberikan kepada orang  yang
datang kepada Tuhannya dengan hati yang pasrah.

Taqwa  kepada  Allah  --yang merupakan wasiat bagi orang-orang
terdahulu dan yang terkemudian, merupakan dasar perbuatan yang
utama, kebajikan, kebaikan di dunia dan akhirat-- pada hakikat
dan intinya merupakan persoalan hati. Oleh karena itu Nabi saw
bersabda,  "Taqwa itu ada di sini," sambil menunjuk ke dadanya
sebanyak tiga kali. Beliau mengatakannya  sebanyak  tiga  kali
sambil  memberikan  isyarat  dengan  tangannya ke dadanya agar
dapat dipahami oleh akal dan jiwa manusia.

Sehubungan dengan hal ini,  al-Qur'an  memberi  isyarat  bahwa
ketaqwaan itu dilakukan oleh hati manusia:

   "Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa
   mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu
   timbul dari ketaqwaan hati." (al-Hajj: 32)

Semua tingkah laku dan perbuatan yang mulia,  serta  tingkatan
amalan  rabbaniyah  yang menjadi perhatian para ahli suluk dan
tasawuf, serta para penganjur pendidikan  ruhaniah,  merupakan
perkara-perkara  yang  berkaitan dengan hati; seperti menjauhi
dunia, memberi perhatian yang lebih kepada akhirat, keikhlasan
kepada  Allah,  kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, tawakkal
kepada   Allah,   mengharapkan   rahmat-Nya,   takut    kepada
siksaan-Nya,  mensyukuri  nikmatNya,  bersabar  atas  bencana,
ridha terhadap ketentuan-Nya, selalu mengingat-Nya,  mengawasi
diri  sendiri...  dan lain-lain. Perkara-perkara ini merupakan
inti dan ruh agama, sehingga barangsiapa yang  tidak  memiliki
perhatian   sama  sekali  terhadapnya  maka  dia  akan  merugi
sendiri, dan juga rugi dari segi agamanya.

Siapa  yang  mensia-siakan  umurnya,  maka  dia   tidak   akan
mendapatkan apa-apa

Anas meriwayatkan dari Nabi saw,

   "Tiga hal yang bila siapapun berada di dalamnya, maka dia
   dapat menemukan manisnya rasa iman. Hendaknya Allah dan
   Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain; hendaknya
   ia mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali
   karena Allah; dan hendaknya ia benci untuk kembali kepada
   kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke
   dalam api neraka." 37
   
   "Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga aku
   lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya, serta
   manusia seluruhnya." 38

Diriwayatkan dari Anas bahwa ada seorang lelaki yang  bertanya
kepada  Nabi  saw, "Kapankah kiamat terjadi wahai Rasulullah?"
Beliau balik bertanya: "Apakah yang telah engkau  persiapkan?"
Dia  menjawab,  "Aku  tidak  mempersiapkan  banyak  shalat dan
puasa,  serta  shadaqah,  tetapi  aku  mencintai   Allah   dan
Rasul-Nya."  Rasulullah  saw  kemudian  bersabda, "Engkau akan
bersama orang yang engkau cintai."39

Hadits ini dikuatkan oleh hadits Abu Musa bahwa ada  seseorang
berkata  kepada  Nabi  saw, "Ada seseorang yang mencintai kaum
Muslimin,  tetapi  dia  tidak  termasuk  mereka."   Nabi   saw
menjawab,  "Seseorang  akan  bersama  dengan  orang  yang  dia
cintai."40

Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa  cinta  kepada  Allah
SWT  dan  Rasulullah,  serta cinta kepada hamba-hamba-Nya yang
shaleh merupakan cara pendekatan yang paling baik kepada Allah
SWT; walaupun tidak disertai dengan tambahan shalat, puasa dan
shadaqah.

Hal ini tidak lain adalah karena cinta  yang  murni  merupakan
salah satu amalan hati, yang memiliki kedudukan tinggi di sisi
Allah SWT.

Atas dasar itulah beberapa ulama besar berkata,

   "Aku cinta kepada orang-orang shaleh walaupun aku tidak
   termasuk golongan mereka."
   
   "Aku berharap hahwa aku bisa mendapatkan syafaat (ilmu,
   dan kebaikan) dari mereka."
   
   "Aku tidak suka terhadap barang-barang maksiat, walaupun
   aku sama maksiatnya dengan barang-barang itu. "

Cinta kepada Allah, benci karena Allah  merupakan  salah  satu
bagian dari iman, dan keduanya merupakan amalan hati manusia.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

   "Barangsiapa mencintai karena Allah, marah karena Allah,
   memberi karena Allah, menahan pemberian karena Allah,
   maka dia termasuk orang yang sempurna imannya."41
   
   "Ikatan iman yang paling kuat ialah berwala' karena
   Allah, bermusuhan karena Allah, mencintai karena Allah,
   dan membenci karena Allah SWT." 42

Oleh sebab itu, kami sangat heran  terhadap  konsentrasi  yang
diberikan  oleh  sebagian  pemeluk  agama, khususnya para dai'
yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang  berkaitan
dengan   perkara-perkara   lahiriah   lebih   banyak  daripada
perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih
banyak   daripada   intinya;   misalnya  memendekkan  pakaian,
memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab  wanita,
hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau
kaki ketika shalat, dan perkara-perkara  lain  yang  berkaitan
dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan
inti dan  ruhnya.  Perkara-perkara  ini,  bagaimanapun,  tidak
begitu diberi prioritas dalam agama ini.

Saya  sendiri memperhatikan --dengan amat menyayangkan-- bahwa
banyak  sekali  orang-orang  yang  menekankan  kepada   bentuk
lahiriah  ini  dan  hal-hal yang serupa dengannya --Saya tidak
berkata  mereka  semuanya--  mereka  begitu  mementingkan  hal
tersebut  dan  melupakan  hal-hal lain yang jauh lebih penting
dan lebih dahsyat pengaruhnya.  Seperti  berbuat  baik  kepada
kedua  orangtua,  silaturahim, menyampaikan amanat, memelihara
hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan  hak  kepada
orang  yang  harus  memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk
Allah, apalagi terhadap  yang  lemah,  menjauhi  hal-hal  yang
jelas  diharamkan,  dan  lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh
Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam  kitab-Nya,
di  awal  surah  al-Anfal, awal surah al-Mu'minun, akhir surah
al-Furqan, dan lain-lain.

Saya tertarik dengan perkataan  yang  diucapkan  oleh  saudara
kita,  seorang dai' Muslim, Dr. Hassan Hathout yang tinggal di
Amerika, yang sangat tidak suka kepada sebagian  saudara  kita
yang  begitu  ketat dan kaku dalam menerapkan hukum Islam yang
berkaitan dengan daging halal yang  telah  disembelih  menurut
aturan  syariat.  Mereka  begitu  ketat meneliti daging-daging
tersebut  apakah  ada  kemungkinan   bahwa   daging   tersebut
tercampur    dengan   daging   atau   lemak   babi,   walaupun
persentasenya hanya sebesar satu persen, atau  seperseribunya;
tetapi  dalam masa yang sama dia tidak memperhatikan bahwa dia
memakan bangkai saudaranya setiap hari beberapa  kali  (dengan
fitnah   dan   mengumpat/ghibah),  sehingga  saudaranya  dapat
menjadi sasaran syubhat dan tuduhan,  atau  dia  sendiri  yang
menciptakan tuduhan-tuduhan tersebut.

Catatan kaki:

32 Muttafaq Alaih dari Umar (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1245),
   hadits pertama yang dimuat dalam Shahih al-Bukhari
   
33 Diriwayatkan oleh Nasai dari Abu Umamah, dan dihasankan
   olehnya dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir(1856)
   
34 Muslim meriwayatkannya dari Abu Hurairah r.a. dengan lafal
   hadits yang pertama, sedangkan lafal yang lainnya diriwayatkan
   oleh Ibn Majah.
   
35 Muttafaq 'Alaih, dari Nu'man bin Basyir, yang merupakan
   bagian daripada hadits, "Yang halal itu jelas, dan yang haram
   itu juga jelas" (Lihat al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1028)
   
36 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. (2564)
   
37 Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu'wa al-Marjan, 26)

38 Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 27)

39 Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1693)

40 Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu' wa al- Marjan, 1694)
   
41 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab al-Sunnah dari Abu
   Umamah (4681), dan dalam al-Jami' as-Shaghir riwayat ini
   dinisbatkan kepada Dhiya' (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 5965)
   
42 Diriwayatkan oleh al-Thayalisi, Hakim, dan Thabrani dalam
   al-Kabir, dan al-Awsath dari Ibn Mas'ud, Ahmad, dan Ibn Abi
   Syaibah dari Barra" dan juga diriwayatkan oleh Thabrani dari
   Ibn ,Abbas (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 2539)
 
------------------------------------------------------
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M

IMAN SEMPURNA

TIADA MANUSIA YANG SEMPURNA IMANNYA
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
 
Pertanyaan:
 
Apakah ada manusia yang sempurna?
 
Jawab:
 
Tiada manusia yang sempurna, karena setiap  orang  mempunyai
kelemahan. Seseorang yang beriman, tentu mempunyai kesalahan
dan memiliki sifat buruk yang sukar dihilangkan. Tiada orang
Mukmin yang murni atau sempurna.
 
Pandangan orang jarang ditujukan pada hal-hal yang berada di
pertengahan antara dua hal yang berdekatan.  Bagi  seseorang
sesuatu  itu  warnanya  putih saja, sebagian yang lain hitam
saja, mereka lupa adanya warna yang lain,  tidak  putih  dan
tidak pula hitam.
 
Nabi  saw.  pernah  bersabda  kepada  Abu  Dzar r.a., beliau
bersabda,  "Engkau  seorang  yang  masih  ada  padamu  sifat
Jahiliyah."  Abu  Dzar  adalah  seorang  sahabat yang utama,
termasuk dari orang-orang pertama yang beriman dan berjihad,
akan tetapi masih ada kekurangannya.
 
Juga didalam Shahih Bukhari diterangkan oleh Nabi saw.:
 
"Barangsiapa yang meninggal bukan karena melakukan jihad dan
tidak dirasakannya (tidak ingin) dalam jiwanya  maksud  akan
berjihad, maka dia mati dalam keadaan sedikit ada nifaknya."
 
Abdullah  bin  Mubarak  meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib
r.a. yang mengatakan sebagai berikut:
 
"Seorang Mukmin itu permulaannya tampak sedikit putih  dalam
kalbunya;   setiap   kali  iman  bertambah,  maka  bertambah
putihlah  kalbu  itu.  Begitu  seterusnya,  hingga  kalbunya
menjadi putih semua.
 
Begitu juga kemunafikan, pertama ada tanda-tanda hitam dalam
kalbunya; dan setiap melakukan kemunafikan,  maka  bertambah
pula hitamnya, sampai hatinya menjadi hitam semua.
 
Demi  Allah,  jika  dibuka  hati  seorang Mukmin, maka tentu
tampak putih sekali; dan jika dibuka hati orang kafir,  maka
tentu tampak hitam sekali."

Ini berarti seseorang tidak dapat sekaligus menjadi sempurna
imannya atau menjadi munafik, tetapi kedua hal itu bertahap,
yakni sedikit demi sedikit.
 
---------------------------------------------------
FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Penerbit Risalah Gusti
Cetakan Kedua, 1996
Jln. Ikan Mungging XIII/1
Telp./Fax. (031) 339440
Surabaya 60177

DALIL-DALIL ULAMA YANG MEMPERBOLEHKAN LAGU

Dalil-dalil yang mereka pergunakan adalah dalil-dalil yang dipakai oleh orang-orang yang mengharamkan lagu itu juga, dan satu demi satu telah berguguran (mereka tolak). Sehingga tidak ada satu pun dari dalil-dalil itu yang mereka pegang.

Apabila dalil-dalil yang mengharamkan itu sudah tidak berfungsi, maka yang tetap adalah bahwa hukum menyanyi itu dikembalikan pada asalnya yaitu boleh, tanpa diragukan. Dan seandainya tidak ada lagi bersama kita satu dalil pun atas hal itu selain menggugurkan dalil-dalil yang mengharamkan maka bagaimana mungkin, sedangkan kita masih mempunyai nash-nash yang shahih dan sharih. Bersama kita juga ada ruh Islam yang mudah kaidah-kaidah umumnya serta dasar-dasarnya yang pokok. Berikut ini penjelasannya

Pertama, dan segi nash-nash

Mereka berdalil dengan sejumlah hadits shahih, di antaranya adalah hadits tentang menyanyinya dua budak wanita di rumah Nabi SAW di sisi Aisyah RA dan bentakan Abu Bakar terhadap kedua wanita itu beserta perkataannya, “Seruling syetan di rumah Nabi SAW” Ini membuktikan bahwa kedua wanita itu bukan anak kecil sebagaimana anggapan sebagian orang. Sebab kalau memang keduanya anak kecil, pasti tidak akan memancing kemarahan Abu Bakar RA.

Yang menjadi penekanan di sini adalah jawaban Nabi SAW kepada Abu Bakar RA dan alasan yang dikemukakan oleh Rasulullah SAW bahwa beliau ingin mengajarkan kepada kaum Yahudi bahwa di dalam agama kita itu ada keluwesan. Dan bahwa beliau diutus dengan membawa agama yang bersih dan mudah. Ini menunjukkan atas wajibnya memelihara tahsin shuratil Islam (gambaran Islam yang baik) di hadapan kaum lainnya, dan menampakkan sisi kemudahan dan kelonggaran yang ada dalam Islam.

Imam Bukhari dan Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah ra, bahwa ia pernah menikahkan seorang wanita dengan laki-laki dari Anshar, maka Nabi bersabda, “Wahai ‘Aisyah mereka tidak ada permainan? Sesungguhnya Anshar itu senang dengan permainan.”

Ibnu Majah juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Aisyah pernah menikahkan salah seorang wanita dari familinya dengan laki-laki Anshar, maka Rasulullah SAW datang dan bertanya, “Apakah kalian sudah memberi hadiah pada gadis itu?” Mereka berkata, “Ya (sudah).” Nabi berkata, Apakah kamu sudah mengirimkan bersamanya orang yang menyanyi? ‘Aisyah berkata, “Belum, maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sahabat Anshar itu kaum yang senang dengan hiburan, kalau seandainya kamu kirimkan bersama gadis itu orang yang menyanyikan, “Kami datang kepadamu… kami datang kepadamu… selamat untuk kami dan selamat untuk kamu.”

Hadits ini menunjukkan akan pentingnya memelihara tradisi suatu kaum yang berbeda-beda dan kecenderungan mereka yang beraneka ragam, dan ini berarti tidak bisa memaksakan kecenderungannya kepada semua orang.

Imam Nasa’i dan Hakim meriyawatkan dan menganggap shahih, dari ‘Amir bin Sa’ad, ia berkata, “Saya pernah masuk ke rumah Qurdhah bin Ka’b dan Abi Mas’ud Al Anshari dalam pesta perkawinan. Ternyata di sana ada budak-budak gadis wanita yang sedang menyanyi, maka aku katakan, “Wahai dua sahabat Rasulullah SAW ahli Badar, apakah pantas ini dilakukan di rumahmu? Maka kedua sahabat itu berkata, “Duduklah jika kamu berkenan, mari dengarkan bersama kami, dan jika kamu ingin pergi, maka pergilah, sesungguhnya telah diberi keringanan (rukhsah) kepada kita untuk bersenang-senang ketika pesta perkawinan.”

Ibnu Hazm meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Sirin, bahwa sesungguhnya ada seorang lelaki datang ke Madinah dengan membawa budak-budak wanita, maka orang itu datang kepada Abdullah bin Ja’far dan menawarkan budak-budak itu kepadanya. Maka beliau memerintahkan salah seorang budak wanita untuk menyanyi, sedangkan Ibnu Umar mendengarkan. Maka Abdullah bin Ja’far membelinya setelah ditawar. Kemudian orang itu datang kepada Ibnu Umar sambil mengatakan, “Wahai Aba Abdir Rahman, saya dirugikan tujuh ratus dirham.” Maka Ibnu Umar datang kepada Abdullah bin Ja’far kemudian berkata kepadanya, “Sesungguhnya ia merugi tujuh ratus dirham, maka (pilihlah) kamu harus memberinya, atau kamu kembalikan kepadanya” Maka Abdullah bin Ja’far berkata, “Kita akan memberinya.”

Ibnu Hazm berkata, “Inilah Ibnu Umar telah mendengar nyanyian (lagu-lagu) dan ikut berusaha untuk menjualkan budak yang menyanyi. Ini sanadnya shahih, bukan seperti hadist-hadist yang palsu.”

Mereka juga berdalil dengan firman Allah SWT:

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan,” dan Allah sebaik-baik pemberi rizki.” (Al Jum’ah: 11)

Disertakannya permainan dengan perniagaan berarti yakin akan halalnya, dan Allah tidak mencela keduanya, kecuali ketika suatu saat sahabat disibukkan dengan permainan dan perniagaan dengan datangnya kafilah kemudian mereka memukul rebana karena gembira. Dengan kesibukan itu sampai mereka lupa dengan Nabi SAW yang sedang berdiri (berkhutbah) di hadapan mereka.

Para ulama juga berdalil dengan riwayat yang datang dari sejumlah sahabat Nabi ra, bahwa mereka itu mendengar langsung atau menyatakan boleh, sedangkan mereka adalah kaum yang paling pantas diikuti sehingga kita mendapat petunjuk.

Mereka juga berdalil dengan ijma’ yang dinukil bukan oleh seorang saja, atas bolehnya mendengar nyanyian sebagaimana yang akan kami sebutkan.

Kedua, nyanyian ditinjau dari ruh Islam dan kaidah-kaidahnya

Pertama, Tidak ada masalah mengenai lagu kecuali hanya kebaikan dunia yang dinikmati oleh jiwa dan dianggap baik oleh akal dan fitrah serta disenangi oleh telinga. Ia merupakan kelezatan telinga, sebagaimana makanan yang enak itu kelezatan bagi lidah, pemandangan yang indah itu kelezatan bagi mata dan seterusnya. Lalu apakah kebaikan dan kelezatan yang demikian itu diharamkan di dalam Islam atau dihalalkan?

Sesuatu yang dimaklumi, bahwa sesungguhnya Allah SWT telah mengharamkan bagi Bani Israil sebagian kenikmatan dunia, sebagai siksaan atas perbuatan mereka yang buruk, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT:

“Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulu) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah, dan disebabkan mereka makan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang dari padanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil.. ” (An-Nisa': 160-161)

Maka tidak ada dalam Islam sesuatu yang baik artinya dan yang di anggap baik oleh jiwa yang bersih dan akal yang sehat kecuali telah dihalalkan oleh Allah sebagai kasih sayang untuk semua. Karena risalahnya yang universal dan abadi, sebagaimana Allah SWT berfirman,

“Mereka menanyakan kepadamu, “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah. “Dihalalkan bagimu yang baik-baik.” (Al Maidah: 4)

Allah tidak memperbolehkan seorang pun dari hamba-Nya untuk mengharamkan atas dirinya atau atas orang lain sesuatu yang baik-baik dari apa yang diberikan oleh Allah dengan niat yang baik-baik untuk mencari keridhaan Allah, karena masalah halal dan haram itu hak Allah saja, bukan hak hamba-Nya. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah, “Teranglanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah, “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang hal ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Yunus: 59)

Allah SWT melarang pengharaman terhadap apa yang dihalalkan-Nya dari yang baik-baik, seperti juga penghalalan terhadap sesuatu yang diharamkan-Nya dari kemunkaran-kemunkaran. Keduanya mendatangkan murka Allah dan adzab-Nya, dan menyeret seseorang ke jurang kerugian yang nyata dan kesesatan yang jauh. Allah SWT berfirman dalam mencela perbuatan orang-orang jahiliyah:

“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang telah Allah rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Al An’am: 140)

Kedua, Kalau kita renungkan niscaya kita akan mendapatkan bahwa senang terhadap lagu, musik dan suara yang indah itu hampir merupakan instink manusia dan fitrah yang melekat pada mereka. Sehingga kita bisa melihat pada anak kecil (bayi) yang menyusu di ayunan ibunya bisa ditenangkan dengan suara-suara yang indah, dan mengalihkan perhatian dari tangisnya kepada suara itu. Oleh karena itu sejak dahulu kala para ibu yang sedang menyusui selalu mengumandangkan lagu-lagu untuk anak-anaknya. Bahkan kita katakan bahwa burung-burung dan binatang lainnya itu bisa terpengaruh dengan suara yang indah dan alunan suara yang merdu dan teratur. Sampai Imam Al Ghazali mengatakan di dalam kitabnya Ihya’, “Barangsiapa tidak tergerak oleh suara yang terdengar, maka ia kurang atau telah keluar dari keseimbangan, jauh dari keindahan dan semakin bertambah keras tabiatnya terhadap keindahan. Karena keindahan dan suara merdu itu berpengaruh, yang dengan pengaruh itu menjadi ringanlah segala sesuatu yang dirasa sangat berat dan jarak yang jauh pun terasa pendek serta dapat membangkitkan semangat baru. Sehingga unta pun apabila mendengar suara yang merdu, dia segera memanjangkan lehernya, memperhatikan dari mana arah suara itu dan cepat untuk menuju suara tersebut, sehingga apa yang dibawanya menjadi bergerak-gerak.”

Apabila cinta pada lagu-lagu itu merupakan insting dan fitrah manusia, maka apakah agama ini datang untuk memerangi insting dan fitrah tersebut? Sama sekali tidak! Sesungguhnya agama ini datang justru untuk meluruskannya dan menghargainya dengan baik. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesungguhnya para Nabi itu diutus untuk menyempurnakan fithrah dan menetapkannya, tidak untuk mengganti dan merubahnya.”

Sebagai bukti dari semua, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW itu datang ke Madinah, sementara penduduk Madinah mempunyai dua hari istimewa yang mereka pergunakan untuk bermain-main. Maka Nabi bertanya, “Apa dua hari itu?,” mereka menjawab, “Kita dahulu bermain-main dalam dua hari itu masa jahiliyah.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari untukmu dengan yang lebih baik, itulah hari raya Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i)

‘Aisyah berkata, “Sungguh aku pernah melihat Nabi SAW menutupiku dengan selendangnya, saat itu saya sedang menyaksikan orang-orang Habasyah bermain di masjid, hingga aku merasa bosan dengan permainan itu, maka hargailah gadis muda yang senang untuk bermain-main.”

Apabila nyanyian itu termasuk permainan maka permainan atau hiburan tidaklah haram, karena manusia tidak akan tahan untuk hidup serius secara terus-menerus.

Nabi SAW pernah bersabda kepada Handzalah ketika ia mengira bahwa dirinya telah munafik karena bergurau dengan isteri dan anak-anaknya, dan karena perubahan kondisi (keimanan)nya antara di rumahnya dengan kondisinya bersama Rasulullah SAW, “Wahai Handzalah! Sesaat-sesaat (sedikit-sedikit).” (HR. Muslim)

Ali bin Abi Thalib berkata:

“Hiburlah hatimu sedikit demi sedikit, sesungguhnya hati itu apabila tidak suka, menjadi buta.”

“Sesungguhnya hati itu bisa bosan sebagaimana fisik juga bisa bosan, maka carilah untuknya keindahan hikmah (kebijaksanaan).”

Abud Darda’ berkata:

“Sesunggahnya aku akan menghibur diriku dengan permainan agar lebih kuat untuk memperjuangkan kebenaran.”

Imam Al Ghazali telah menjawab orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya lagu atau nyanyian itu termasuk permainan yang sia-sia dengan kata-katanya sebagai berikut, “Memang demikian, tetapi dunia seluruhnya adalah permainan. Seluruh permainan dengan wanita adalah laghwun, kecuali bercocok tanam yang itu menjadi penyebab memperoleh anak. Demikian juga bergurau yang tidak kotor itu hukumnya halal, demikian itu didapatkan dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya.”

Permainan manakah yang melebihi permainan orang-orang Habasyah, sungguh telah ditetapkan dengan nash tentang bolehnya. Sekali lagi saya katakan bahwa permainan itu bisa menghibur hati, meringankan beban fikiran, dan hati itu apabila tidak suka maka ia menjadi buta, dan menghiburnya adalah membantu untuk bersungguh-sungguh. Orang yang selalu belajar agama misalnya, maka dia memerlukan libur pada hari Jum at, karena libur sehari itu bisa membantu untuk menambah semangat pada hari-hari yang lainnya. Orang yang selalu shalat Sunnah di seluruh waktunya, dia memerlukan istirahat pada sebagian waktu yang lain. Karena beristirahat itu dapat membantu untuk beramal lebih semangat. Demikian juga permainan itu dapat membantu untuk lebih serius, dan tidak ada yang tahan untuk terus serius dan mempertahankan kebenaran, kecuali para nabi ‘alaihimus salam.

Permainan merupakan obat hati bagi penyakit payah dan bosan, maka sewajarnya kalau itu diperbolehkan. Akan tetapi tidak sepatutnya berlebihan, sebagaimana tidak bolehnya berlebihan dalam mengambil obat. Jika demikian, permainan dengan niat seperti ini bahkan bisa berubah menjadi ibadah. Ini bagi orang yang tidak bisa menggerakkan pendengarannya dari hatinya sifat yang terpuji dia dituntut untuk menggerakkannya, tidak sekedar menikmati dan beristirahat saja. Karena itu sangat ditekankan bagi kita untuk berbuat demikian agar sampai pada tujuan yang kita sebutkan. Yakni menunjukkan atas kekurangan untuk mencapai puncak kesempurnaan. Sesungguhnya orang yang sempurna adalah orang yang tidak memerlukan untuk menghibur dirinya dengan selain yang haq. Tetapi kebaikan orang-orang salah itu adalah keburukan orang-orang yang sangat dekat dengan Allah. Maka barangsiapa yang menguasai ilmu mental dan cara-cara melunakkannya serta penggiringannya menuju yang haq, maka ia akan mengetahui secara pasti bahwa sesungguhnya menghibur hati dengan cara-cara seperti ini merupakan obat yang bermanfaat, tidak bisa dipungkiri lagi”25).

Demikian kata-kata Imam Ghazali, yang merupakan perkataan yang menarik dan menggambarkan ruh Islam yang benar.

Lihat Al Muhalla 9/63

Lihat Al Ihya’hal. 1152, 1153

DALIL-DALIL ORANG YANG MENGHARAMKAN LAGU (NYANYIAN) DAN BANTAHAN DARI ULAMA LAINNYA

Pertama. Mereka mengharamkan lagu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas serta sebagian Tabi’in, bahwa mereka mengharamkan nyanyian berdasarkan firman Allah SWT, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. (Luqman: 6)

Mereka menafsirkan “Lahwal Hadits” (perkataan yang tidak berguna) di sini dengan nyanyian (lagu).

Ibnu Hazm mengatakan, “Tak ada alasan untuk mempergunakan ayat tersebut sebagai dalil atas haramnya lagu-lagu karena beberapa alasan:

  1. Sesungguhnya tidak ada alasan (yang paling kuat) bagi siapa pun selain dari Rasulullah SAW.
  2. Pendapat di atas bertentangan dengan pendapat para sahabat yang lainnya dan para tabi’in.
  3. Sesungguhnya keterangan ayat itu sendiri membatalkan hujjah mereka, karena di dalam ayat tersebut terdapat sifat orang berbuat demikian maka kafir tanpa khilaf, yakni apabila menjadikan jalan Allah sebagai pelecehan. Ibnu Hazm mengatakan, “Seandainya ada seseorang yang mempergunakan mushaf untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah dan menjadikannya sebagai ejekan, maka ia kafir, maka inilah yang dicela oleh Allah SWT dan Allah sama sekali tidak mencela orang mempergunakan perkataan yang main-main untuk permainan dan menghibur diri, bukan untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah. Maka batallah hujjah mereka. Demikian juga sebaliknya, orang yang keasyikan membaca Al Qur’an dan hadits atau ngobrol atau kesibukan dengan lagu-lagu dan lainnya sehingga melalaikan shalat, maka dia fasik, dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang tidak menyia-nyiakan sedikit pun dari kewajiban-kewajiban itu karena melakukan apa-apa yang telah kami sebutkan, maka ia seorang yang muhsin (berbuat kebajikan)” (Al Muhalla: 9/60 cet. Al Munirah)

Dalil yang kedua dari orang-orang mengharamkan nyanyian adalah firman Allah SWT dalam memuji orang-orang yang beriman. Allah berfirman:

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya.” (Al Qashash: 55)

Dan nyanyian termasuk “Al laghwu” (perkataan yang tidak berguna), maka wajib bagi kita untuk menghindarinya. Pendapat ini dijawab, bahwa secara zhahir dari ayat ini “Al laghwu” adalah perkataan kotor seperti mencaci maki, perkataan yang menyakitkan dan sebagainya. Karena kesempurnaan ayat membuktikan hal itu.

“Dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal-mu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (Al Qashash: 55)

Ini mirip dengan firman Allah SWT yang menjelaskan sifat-sifat ‘Ibadur Rahman:

“Dan apabila orang-orang jahil itu mengejek mereka, mereka (balas) mengatakan dengan ucapan selamat .” (Al Furqan: 63)

Kalau kita pasrah bahwa sesungguhnya Al laghwu dalam ayat tersebut meliputi nyanyian, pasti kita mendapatkan ayat itu mendorong kita untuk berpaling dari mendengarkan dan memujinya, padahal tidak demikian.

Kata “Al Laghwu” seperti kata “Al Baathil” yang berarti tidak berguna. Dan mendengarkan apa-apa yang tidak berguna itu tidak haram selama tidak menelantarkan hak atau melalaikan yang wajib.

Diriwayatkan dari Ibnu Juraij, bahwa ia memberi keringanan dalam masalah mendengarkan lagu, maka ia ditanya, “Apakah hal itu kelak di hari kiamat akan dimasukkan sebagai kebaikanmu atau keburukanmu?” Beliau menjawab, “Tidak termasuk hasanaat dan tidak termasuk sayyiaat, karena itu mirip dengan Al laghwu.” Allah SWT berfirman:

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang main-main (yang tidak dimaksud untuk bersumpah).” (Al Baqarah: 225)

Imam Al Ghazali mengatakan, “Apabila menyebut Asma Allah Ta’ala atas sesuatu dengan cara bersumpah, dengan tanpa aqad dan tidak bersungguh-sungguh saja tidak dikenakan sanksi, apa lagi dengan syair dan lagu-lagu.22)

Selain itu kita katakan bahwa tidak semua nyanyian itu termasuk “Al laghwu.” Sesungguhnya itu tergantung pada niat orangnya, karena niat yang baik itu bisa merubah suatu permainan menjadi suatu ibadah, dan bergurau menjadi suatu ketaatan sementara niat yang kotor itu bisa menghapus amal kita yang zhahirnya beribadah sementara bathinnya riya, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa kamu dan harta kamu, tetapi Dia melihat pada hati dan amalmu .” (HR. Muslim)

Di sini kita bisa mengutip kata-kata Ibnu Hazm yang baik di dalam kitabnya “Al Muhalla” sebagai sanggahan terhadap orang-orang yang melarang lagu-lagu. Beliau mengatakan, “Mereka yang mengharamkan menyanyi itu berhujjah dan mengatakan, ‘Apakah menyanyi itu barang yang haq atau tidak’, tidak perlu pendapat yang ketiga, yang jelas Allah SWT sendiri mengatakan,

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan” (Yunus: 32)

Maka jawaban kita, Wabillahit Taufiq, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya diterimanya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap (amal) seseorang tergantung pada niatnya …” (H. Muttafaqun ‘Alaih). Maka barang siapa yang mendengarkan lagu-lagu untuk membantu dia bermaksiat kepada Allah, maka dia fasiq. Demikian juga terjadi pada selain lagu-lagu. Tetapi barangsiapa yang dengan lagu itu dia berniat untuk menghibur dirinya dan untuk memperkuat taatnya kepada Allah dan dengan lagu-lagu itu ia bersemangat untuk berbuat kebajikan maka ia termasuk berbuat ketaatan dan kebaikan, dan perbuatannya termasuk barang haq. Dan barang siapa tidak berniat taat atau maksiat maka itu termasuk laghwun yang dimaafkan, seperti orang yang keluar ke kebunnya dan duduk di pintu rumahnya untuk bersenang hati dan mewarnai bajunya dengan warna keemasan atau hijau atau yang lainnya serta memanjangkan betisnya atau menekuknya serta seluruh aktifitasnya.” (Al Muhalla: 9/60)

Ketiga. Dalil yang ketiga adalah hadits Rasulullah SAW:

“Setiap permainan yang dilakukan oleh seorang mukmin maka itu suatu kebathilan, kecuali tiga permainan: pemainan suami dengan isterinya, pelatihannya terhadap kudanya, dan melemparkan anak panah dari busurnya” (HR. Ashabus Sunan – Muththarib)

Sementara lagu-lagu adalah termasuk selain tiga permainan yang disebutkan dalam hadits ini.

Orang-Orang yang memperbolehkan menyanyi mengatakan bahwa hadits tersebut dha’if, seandainya shahih pasti menjadi hujjah, bahwa ungkapan Nabi “Itu adalah bathil” itu tidak menunjukkan pengharaman, tetapi menunjukkan tidak berguna. Abu Darda’ pernah mengatakan, “Sesungguhnya aku akan melakukan untuk diriku sedikit dari yang bathil agar diriku kuat untuk melakukan yang haq (kebenaran).” Karena sesungguhnya pembatasan tiga hal dalam hadits tersebut tidak dimaksudkan untuk pembatasan mutlak. Buktinya pernah terjadi orang-orang Habasyah bermain pedang di Masjid Nabawi, itu juga di luar dari tiga hal tersebut, dan ini ditetapkan dalam hadits shahih.

Tidak diragukan lagi bahwa bersenang-senang di kebun dan mendengar suara-suara burung serta berbagai permainan yang dilakukan oleh seseorang itu sama sekali tidak diharamkan, meskipun boleh kita katakan itu bathil (tanpa guna) secara langsung.

Keempat. Mereka juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (Mu ‘allaq), dari Abi Malik atau ‘Amir Al Asy’ari, satu keraguan dari perawi, dari Nabi SAW ia bersabda:

“Benar-benar akan ada suatu kaum dari ummatku yang menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr (minuman keras) dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari – Mu’allaq)

Hadist tersebut meskipun ada di dalam shahih Bukhari, tetapi ia termasuk “Mu’allaq,” bukan termasuk hadits yang sanadnya muttashil (bersambung). Oleh karena itu Ibnu Hazm menolak karena sanadnya terputus, selain hadits ini mu ‘allaq, para ulama mengatakan bahwa sanad dan matanya tidak selamat dari kegoncangan (idhtiraab).

Al Hafidz Ibnu Hajar berusaha untuk menyambung hadits ini, dan beliau berhasil untuk menyambung dari sembilan sanad, tetapi semuanya berkisar pada satu perawi yang dibicarakan oleh sejumlah ulama’ ahli. Satu perawi itu adalah “Hisyam Ibnu ‘Ammar,” perawi ini meskipun sebagai Khatib Damascus dan muqri’nya serta muhaddits dan alimnya, bahkan Ibnu Ma’in dan Al ‘Ajli men-tautsiq. Tetapi Abu Dawud mengatakan, “Dia meriwayatkan empat ratus hadits yang tidak ada sandarannya (yang benar dari Rasul).”

Abu Hatim juga berkata, “Ia shaduq (sangat jujur), tetapi telah berubah (hafalannya), sehingga Ibnu Sayyar pun mengatakan seperti itu.”

Imam Ahmad mengatakan, “Ia thayyasy dan khafif (hafalannya berkurang).’ Imam Nasa’i mengatakan, “Tidak mengapa (ini bukan pentautsiq-an secara mutlak).”

Meskipun Imam Adz-Dzahabi membelanya, dengan mengatakan, Shadaq dan banyak meriwayatkan, namun ada kemunkarannya.

Para ulama juga mengingkari karena ia tidak meriwayatkan hadits kecuali memakai upah.

Orang seperti ini tidak bisa diterima haditsnya pada saat-saat terjadi perselisihan pendapat, terutama dalam masalah yang pada umumnya sudah menjadi fitnah.

Meskipun dalil tersebut, katakanlah, ada, tetapi kata-kata “Al Ma’aazil” itu belum ada kesepakatan maknanya secara pasti, apa sebenarnya. Sehingga ada yang mengatakan “permainan-permainan,” ini sangat global. Ada juga yang mengatakan alat-alat musik.

Kalau seandainya kita katakan bahwa yang dimaksud adalah alat-alat musik, maka redaksi hadits yang mu’allaq di dalam Bukhari itu tidak sharih (tidak jelas) di dalam mengartikan haramnya “Al Ma’azif.” Karena ungkapan “Yastahilluna” (menghalalkan) menurut Ibnu ‘Arabi mempunyai dua makna, pertama meyakini bahwa itu halal, dan yang kedua, suatu majaz (ungkapan tidak langsung) tentang memperlonggar dalam mempergunakan itu semua, karena seandainya itu adalah arti yang sebenarnya maka itu kufur, karena menghalalkan yang haram secara pasti seperti minuman keras, zina itu kufur secara ijma’.

Seandainya kita sepakat atas haramnya itu semua, maka apakah itu berarti pengharaman terhadap seluruh apa yang disebutkan di dalam hadits itu, atau masing-masing ada hukumnya sendiri-sendiri? Maka yang pertama itulah yang rajih, karena pada kenyataannya hadits ini menjelaskan perilaku sekelompok manusia yang tenggelam dalam kemewahan, malam-malam merah dan minuman keras . Mereka yang hidup di antara khamr dan wanita, permainan dan lagu-lagu, zina dan sutera. Karena itulah Ibnu Majah meriwayatkan hadits ini dari Abi Malik Al Asy’ari dengan kata-kata sebagai berikut:

“Sungguh akan ada manusia dari ummatku yang meminum khamr, mereka menamakannya bukan dengan namanya, kepala mereka dipenuhi dengan alat-alat musik dan biduanita (lagu-lagu dan artis). Sungguh Allah akan memasukkan mereka ke dalam tanah dan akan mengganti rupa mereka dengan kera dan babi.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Bukhari dalam Tarikhnya)

Seluruh perawi yang meriwayatkan hadits dari selain Hisyam bin Ammar telah menjadikan ancaman itu pada orang yang meminum minuman keras, dan bukanlah pada ma’azif (alat-alat musik) itu sebagai penyempurna dan yang mengikuti bagi mereka.

Kelima. Mereka juga berdalil dengan hadits dari ‘Aisyah RA

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan biduanita (artis), menjual belikannya, menghargainya, dan mengajarinya.”

Sebagai jawabannya sebagai berikut:

  1. Hadits ini dha’if, dan seluruh hadits yang mengharamkan jual beli artis penyanyi adalah dha’if. (Ibnu Hazm dalam Al Muhalla: 9/59-62)
  2. Imam Al Ghazali mengatakan, “Yang dimaksud penyanyi di sini adalah penyanyi wanita yang bernyanyi di hadapan pria dalam majelis khamr, dan menyanyinya para wanita di hadapan laki-laki fasik dan orang yang dikhawatirkan ada fitnah itu haram, mereka tidak bermaksud dengan fitnah itu kecuali dilarang. Adapun menyanyinya budak wanita di hadapan pemiliknya itu tidak difahami haram dari hadits ini. Bahkan kepada selain pemiliknya pun ketika tidak ada fitnah, dengan dalil hadits yang diriwayatkan di dalam Shahihain yaitu nyanyian dua budak wanita di rumah ‘Aisyah RA, yang akan kami jelaskan nanti. (Al Ihya':1 148)
  3. Para penyanyi dari budak wanita itu memiliki unsur penting dalam aturan perbudakan, di mana Islam datang untuk memberantasnya secara bertahap. Dan Islam tidak sependapat, hikmah ini menetapkan adanya kelas tertentu pada masyarakat Islam. Maka apabila ada hadits yang melarang memiliki budak penyanyi dan memperjual belikan, itu berarti dalam rangka merobohkan sistem perbudakan yang kokoh.

Keenam. Mereka juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Nafi’, bahwa sesungguhnya Ibnu Umar itu pernah mendengar suara seruling penggembala, maka beliau meletakkan kedua jari telunjuknya di dalam telinganya dan mengalihkan kendaraannya dari jalan, beliau berkata, “Hai Nafi’, apakah kamu mendengar?” maka Nafi’ berkata, “Ya” lalu berjalan terus sampai Nafi’ berkata, “Tidak” maka Ibnu Umar mengangkat tangannya dan mengalihkan kendaraannya ke jalan (lainnya) dan berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah SAW mendengar seruling penggembala maka Nabi berbuat demikian.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Abu Dawud mengatakan, “Ini hadits munkar”)

Seandainya hadits ini shahih, maka akan menjadi hujjah yang mengalahkan orang-orang yang mengharamkan, bukan mendukung mereka. Karena seandainya mendengar seruling itu haram, maka Nabi SAW tidak memperbolehkan Ibnu Umar untuk mendengarkannya, dan kalau seandainya Ibnu Umar itu mengharamkan maka tidak akan diperbolehkan kepada Nafi’ untuk mendengarkannya. Dan pasti Rasulullah SAW memerintahkan untuk melarang dan merubah kemunkaran itu. Pengikraran Nabi SAW kepada Ibnu Umar sebagai dalil bahwa itu halal.

Tetapi Rasulullah SAW menjauhi untuk mendengar seruling itu sebagaimana beliau menjauhi banyak sekali hal-hal yang diperbolehkan dari masalah dunia, seperti makan sambil bersandar atau beliau tidak suka kalau ada dinar dan dirham yang bermalam di sisinya.

Ketujuh, Mereka yang mengharamkan lagu juga berdalil dengan riwayat yang mengatakan, “Sesungguhnya nyanyian itu dapat menimbulkan kemunafikan dalam hati,” tetapi ini bukan hadits dari Rasulullah SAW, melainkan perkataan sahabat atau tabi’in. Ini adalah suatu pendapat orang yang tidak ma’sum yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sebagian manusia ada juga yang mengatakan, terutama dari kalangan sufi, bahwa sesungguhnya nyanyian itu bisa melunakkan hati, dan dapat membangkitkan perasaan sedih, menyesal atas kemaksiatan serta dapat menjadi sarana untuk memperbarui jiwa dan semangat mereka dan membangkitkan kerinduan. Mereka mengatakan, “Ini tidak mungkin bisa diketahui kecuali dengan perasaan, pengalaman dan kebiasaan, karena itu barangsiapa merasakan maka dia mengetahui, informasi ini tidak bisa ditangkap dengan mata.”

Meskipun demikian, Imam Al Ghazali menjadikan hukum kalimat ini bagi si penyanyi, bukan pendengar, karena tujuan penyanyi adalah menampilkan dirinya di hadapan orang lain dan mengkomersialkan suaranya, dan secara terus menerus ia berbuat kemunafikan dan berusaha menarik perhatian manusia agar mereka senang terhadap lagunya. Al Ghazali mengatakan, “Demikian itu tidak menjadikan haram, karena sesungguhnya memakai pakaian serta berbangga-banggaan dengan tanaman, binatang ternak, ladang dan yang lainnya itu juga bisa menimbulkan kemunafikan dalam hati, dan ini bukan berarti haram seluruhnya. Karena bukanlah penyebab munculnya kemunafikan dalam hati itu maksiat, tetapi sesungguhnya hal-hal yang mubah pun ketika menjadi perhatian manusia itulah yang banyak berpengaruh

Kedelapan, Mereka juga berdalil atas haramnya nyanyian wanita dengan alasan bahwa suara wanita itu aurat, padahal ini tidak ada dalilnya, tidak pula ada yang mirip dengan dalil dari agama Allah bahwa suara wanita itu aurat. Karena sahabat wanita dahulu juga bertanya kepada Rasulullah SAW ketika Nabi sedang berada di tengah-tengah para sahabat laki-laki. Dan para sahabat sendiri juga pernah pergi kepada ummahatul mukminin (para isteri Rasulullah) untuk meminta fatwa dan mereka pun memberikan fatwa dan berbicara dengan orang-orang yang datang. Dan tidak ada seorang pun mengatakan, “Sesungguhnya ini dari Aisyah atau selain Aisyah telah melihat aurat yang wajib ditutupi,” padahal isteri-isteri Nabi mendapat perintah dengan keras yang tidak pernah dirasakan bagi wanita lainnya Allah SWT berfirman:

“Dan berkatalah kamu (wahai isteri-isteri Nabi) dengan kata-kata yang baik.” (Al Ahzab: 32)

Mereka mengatakan, “Itu berkaitan dengan percakapan biasa, bukan dalam nyanyian.” Kita katakan, diriwayatkan di dalam Shahihain, bahwa Nabi SAW pernah mendengar nyanyian dua wanita budak dan tidak mengingkari keduanya, dan Nabi bersabda kepada Abu Bakar, “Biarkan mereka berdua.” Ibnu Ja’far dan lainnya dari kalangan sahabat dan tabi’in juga pernah mendengar budak-budak wanita menyanyi.

Kesembilan. Mereka juga berdalil dengan hadits Tirmidzi dari Ali, marfu’ “Apabila ummatku melakukan lima belas perkara, maka akan mendapat cobaan .. (salah satunya adalah) mengambil biduanita dan alat-alat musik.” Hadits ini disepakati atas kedha’ifannya, maka tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.

Kesimpulan bahwa nash-nash yang dijadikan dalil oleh orang yang mengatakan haramnya lagu-lagu itu mungkin shahih, tetapi tidak sharih (jelas), atau sharih tetapi tidak shahih, dan tidak ada satu pun hadits yang marfu’ (sampai) pada Rasulullah SAW yang pantas dipakai sebagai dalil untuk mengharamkan. Dan seluruh hadits-hadits yang mereka pergunakan itu didhai’fkan oleh golongan Zhahiriyah, Malikiyah, Hanabilah dan Syafi’iyah.

Al Qadhi Abu Bakar Ibnu ‘Arabi mengatakan di dalam kitabnya Al Ahkaam, tidak benar dalam pengharaman sedikit pun. Demikianlah juga dikatakan oleh Al Ghazali, dan Ibnu Nahwi di dalam kitab “Al ‘Umdah.”

Ibnu Thahir dalam kitabnya “As-Simaa’ ” mengatakan “Tidak benar satu huruf pun dari hadist-hadist itu.

Ibnu Hazm berkata, “Tidak benar sedikit pun dalam bab ini, dan setiap riwayat, tentang masalah itu maudhu’ (palsu). Demi Allah, kalau seandainya seluruhnya atau salah satu dari riwayat itu disandarkan dari/melalui jalan orang-orang yang tsiqah kepada Rasulullah SAW pasti kita tidak akan ragu untuk mengambilnya.”

Lihat kitab Al Ihya’ ‘Ulumuddin, bab. As-Samaa’. hal.1147

Lihat Al Ihya Kitabus-Samaa’ hal. 1151.

PEMIKIRAN SALAFI

Yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.

Kriteria Manhaj Salafi yang Benar

Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :

  1. Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
  2. Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.
  3. Memahami kasus-kasus furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
  4. Menyerukan “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan.
  5. Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
  6. Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.
  7. Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
  8. Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
  9. Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
  10. Menekankan sikap “ittiba'” (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat “ikhtira'” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.

Inilah inti “manhaj salafi” yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan Iman”. Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.

Citra “Salafiah” Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra

Istilah “Salafiah” telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”. Orang-orang yang pro-salafiah – baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah – telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan “Salafiah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.

Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini “terbelakang”, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.

Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan “salafiah” dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan”pembaruan Islam” pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.

Mereka telah menumpas faham “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l – malaam ‘anil – A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyah.

Demikian gencar serangan mereka terhadap “tasawuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.

Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka

Yang pelu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.

Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam “taqlid” yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim

Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: “Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia”.

Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: “Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid”.

Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.

Namun, orang seringkali melupakan, sisi “dakwah” dan “jihad” dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna “Salafiah” yang sesungguhnya.

Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan “salafiah”, dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi “salafiah”, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah “Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa “bendera” salafiah ini, menulis Tafsir “Al-Manar” dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Rasyid Ridha adalah seorang “pembaharu” (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca “tafsir”nya, sperti : “Al-Wahyu Al-Muhammadi”, “Yusrul-Islam”, “Nida’ Lil-Jins Al-Lathief”, “Al-Khilafah”, “Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid” dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan “Manar” (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran “salafiah”nya.

Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah “emas” yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :

“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”

Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai “pengikut Salaf”.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.